Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dsi@iainmadura.ac.id

MEDIA THEOLOGY DALAM KEBERAGAMAAN

  • Diposting Oleh Admin
  • Jumat, 13 Maret 2026
  • Dilihat 71 Kali
Bagikan ke

Affan*

Media sosial atau khalayak media (sebagaimana dikatakan Rulli Nasrullah, 2018) merupakan dirinya sebagai ‘penguasa’ global sejak tahun 80 an.  Khalayak media sejatinya saat ini merupakan senjata yang sangat tajam dan menghujam dalam masyarakat internet (internet society). Masyarakat atau khalayak senantiasa merasa ada yang hilang ketika satu detik tidak mengakses medsos. Jutaan platform yang ada di medsos, mulai dari platform pendidikan, politik, bisnis, dan (diantaranya juga adalah) media theology.

Media theology (teologi media) diantaranya adalah mempelajari bagaimana konten keagamaan dipahami, dihayati, kemudian diproduksi lalu disebarkan melalui media, sekaligus (dan yang terpenting) juga bagaimana etika dan budi pekerti dalam bermedia, evaluasi tentang etika bermedia,  peluang keagamaan dalam bermedia, serta tantangan teologis dalam penggunaan media sosial di era digital.

Menahem Blondheim dan Hananel Rosenberg (2016) mengatakan bahwa teologi media (media theology) adalah bagaimana dimensi ideologis agama memasuki media serta hubungan ideology dengan media itu sendiri. Selanjutnya, teologi media (secara umum) dimaknai sebagai studi interdisipliner dan cara pandang pengetahuan yang menganalisis hubungan dan korelasi antara pesan iman kepada Ilahi (believing for God) dengan media komunikasi modern (digital/sosial), termasuk bagaimana integrasi iman dalam memasuki media dan bagaimana media menjadi alat dalam memperdalam keyakinan (believing for God) tadi. Integrasi sendiri bertujuan untuk bagaimana menciptakan keserasian fungsi media dalam menopang keimanan, mengurangi konflik keagamaan, serta membentuk identitas keagamaan bersama dalam konteks sosial, politik, budaya terutama dalam keberagamaan.

Media theology setidaknya dapat dilihat dalam tiga aspek penting: (1) bagaimana kepekaan keagamaan (religious sensitivity) mampu menciptakan, membentuk, menerapkan, bahkan memengaruhi serta menjalin hubungan kohesif dengan teknologi media; (2) bagaimana teknologi media berfungsi sebagai alat untuk memahami aspek teologi media; dan (3) bagaimana penggunaan media terkait dengan pengalaman religius, baik secara mental maupun eksistensinya (Blondheim & Rosenberg, 2016: 43).

Dalam media theology, terdapat beberapa hal yang biasanya eksis di dalamnya:

  1. Theology sphare. Media sosial merupakan wadah digital dan diakui sebagai ruang baru dalam malakukan syiar dan bahkan kontekstualisasi syariat-syariat keagamaan seperti penyebaran nilai-nilai keagamaan.
  2. Message transformation. Penyampaian tentang syiar keagamaan berubah cara penyampaiannya. penyampaian iman dari mimbar konvensional menuju format visual instan dari Logos ke like, subscribe kemudian share".
  3. Virtual Theology. Penymapaian nilai-nilai keagamaan dievaluasi mengenai keabsahan dan efektivitasnya melalui (misalnya) QRIS yang dapat mengukur efisiensi dan efektifitas dari keabsahan religion values, terutama virtual theology di era digital.
  4. Tantangan Era Post-Truth. Tantangan dalam media theology saat ini adalah adanya penyampaian syiar-syiar keagamaan yang hoaks, disinformasi, bulliying dan mengenyampingkan etika penggunaan media sosial dalam menyebarkan kebenaran.
  5. Digital mission. Misi digital yang dimaksud adalah adanya manfaat yang luar biasa dan keberuntungan dalam syiar keagamaan dengan adanya media theology untuk memberikan pemahaman keagamaan yang lebih mnedalam  kepada generasi milenial atau bahkan Gen Z.

Teologi media membantu agama yang ada atau lembaga keagamaan untuk tetap relevan dengan menggunakan teknologi secara bijak dalam menyampaikan pesan ilahi.

Identitas dan keagamaan

Menurut Pedersen, setidaknya ada empat pokok atau model sebagai isu utama ketika membahas identitas. Model tersebut adalah (1) hal-hal spriritual atau keagamaan, (2) personal/sosial, (3) keluarga, dan (4) yang bisa diidentifikasi (yang tampak dan tampilan fisik) (Pedersen, 1994, 1999).

Salah satu ekspresi identitas di media adalah identitas religius. Identitas ini terhubung dengan diri (self) maupun subjektivitas terhadap sesuatu yang suci. Juga menjelaskan tentang hubungan antara seseorang dengan Tuhannya. "Untuk subjek individual, identitas religius mereka berdasarkan perbedaan kosmologis: tentang antara yang suci dan duniawi, kehidupan dan kematian, hamba dan Tuhan, diri dan orang lain, pria dan wanita, pendeta dan pengikutnya, penguasa sejati dan makhluknya" - Werbner (2010: 251).

Menurut Pnina Werbner, identitas religius merujuk pada tatanan suci yang mengarahkan pandangan hidup seseorang. Dalam proses identifikasi diri ke dalam sebuah kelompok atau masyarakat, seseorang mengambil patokan dari tatanan kehidupan bersama yang sudah ada dan cara berpikir untuk membangun masyarakat sipil berdasarkan nilai moral. Namun, identitas religius kemudian menjadi wacana publik tentang nilai-nilai kebenaran hakiki. Identitas religious yang terkadang memunculkan sebuah konflik tentang kelompok yang benar dan kelompok mana yang menyimpang (lihat Buddenbaum, 1981; Glascock, Livesay, & Ruggiero, 2008; Lichterman, Smilde, & Biblarz, 2008; Pedersen, Darhl M, Richard N. William, 2000).

Identitas religius juga merupakan dimensi dari kepribadian dan pengalaman personal (Werbner, 2010: 234). Keyakinan akan kebenaran dan kejahatan yang hakiki bagi seseorang tidak sekadar di dalam diri, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat. Praktik-praktik berkehidupan ini kemudian dianggap juga sebagai sebuah ritual ibadah dan bagi pelaksananya akan mendapatkan pahala sesuai dengan niat (islahun niyyat) hanya mencari ridha-Nya. Wallahu a’lam.

 

* Mahasiswa doctoral UIN Madura, konsentrasi Studi Islam